KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami hanturkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan serta kemudahan bagi kami dalam menyelesaikan makalah ini. Tak lupa kami kirimkan shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang membawa kita dari masa kegelapan ke masa yang terang benderang.
Pada kesempatan kali ini, kami membuat makalah yang berjudul “Hidup Berkah Dengan Menghormati dan mematuhi ornag tua dan guru”. Kami berupaya semaksimal mungkin dalam pembuatan makalah ini, sehingga makalah ini mudah dimegerti dan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami.
Kami berterima kasih kepada kedua ornag tua yang tela memberikan kami motivasi dan materil, kami berterima kasih kepada guru pembimbing yang telah memberikan tugas ini sehingga kami mendapatkan ilmu pengetahuan yang baru serta kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapaun yang membacanya khususnya untuk siswa siswi MA AL-IKRAM BULUKASA.
Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan..................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. QS. Al-Isra:23-24..................................................................................................................... 2
B. QS. Luqman :13-17`................................................................................................................ 3
C. Hadist...................................................................................................................................... 5
D. Perilaku orang yang menghormati dan mematuhi orang tua dan guru................................ 6
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................................................. 8
B. Saran....................................................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Birrul walidain atau berbakti kepada orang tua adalah hal yang diperintahkan dalam agama. Oleh karena itu bagi seorang muslim, berbuat baik dan berbakti kepada orang tua bukan sekedar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun juga memenuhi norma agama, atau dengan kata lain dalam rangka menaati perintah AllahTa‟ala dan Rasul Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam birrul waalidain (berbakti kepada kedua orang tua), lebih dari sekadar berbuat ihsan (baik) kepada keduanya. Namun birrul walidain memiliki nilai-nilai tambah yang semakin „melejitkan‟ makna kebaikan tersebut, sehingga menjadi sebuah „bakti‟. Dan sekali lagi, bakti itu sendiripun bukanlah balasan yang setara untuk dapat mengimbangi kebaikan orang tua. Namun setidaknya, sudah dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur. Orang tua kita adalah manusia yang paling berhak mendapatkan dan merasakan „budi baik‟ seorang anak, dan lebih pantas diperlakukan secara baik oleh si anak, ketimbang orang lain. Ada beragam cara yang bisa dilakukan seorang muslim, untuk “mengejawantahkan‟ perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya secara optimal
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Isi surah QS. Al-Isra :23-24?
2. Bagaimana isi Surah QS. Luqman 13-17?
3. Apa yang dimaksud hadist?
4. Bagaimana perilaku yang menghormati dan mematuhi orang tua dan guru?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui surah QS. Al-Isra :23-24
2. Untuk mengetahui Surah QS. Luqman 13-17
3. Untuk mengetahui hadist
4. Untuk mengetahui perilaku yang menghormati dan mematuhi orang tua dan guru
1.
BAB II
PEMBAHASAN
A. QS. al-Isrā’ [17]: 23 – 24
Sebelum kita memahami secara lebih mendalam tentang kandungannya, marilah kita baca dengan baik dan benar QS. al-Isrā’ [17]: 23-24 berikut ini
* 4Ó|Ós%ur y7/u wr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$Î) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7t x8yYÏã uy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdxÏ. xsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& wur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJÌ2 ÇËÌÈ ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u/u #ZÉó|¹ ÇËÍÈ
a. Terjemah Kosa Kata/Kalimat (Mufradat)
| Terjemah | Lafal | Terjemah | Lafal | |||||
| atau keduanya | امهȃ وأ | dan Tuhanmu telah memerintahkan | كبر ضقو | |||||
| janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” | لقت Ɔف فأ امهل | agar kamu jangan menyembah | اودبعت ƅأ | |||||
![]() dan janganlah membentak keduanya | امهرهنت ƅو | selain Dia | هايإ ƅإ | |||||
| dan ucapkanlah kepada keduanya | امهل لقو | dan kepada kedua orang tua (ibu, bapak) | نيلاولابو | |||||
| perkataan yang baik | اميرك ƅوق | berbuat baik | اناسحإ | |||||
| dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya | امهل ضفخاو | jika sampai | نغلبي امإ | |||||
| dengan penuh kasih saying | ةحرلا نم | berusia lanjut dalam pemeliharaanmu | بكلا كدنع | |||||
| sayangilah keduanya | امهحرا | salah seorang di antara keduanya | امهدحأ | |||||
b. Terjemah Ayat
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah eng- kau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (QS. al-Isrā’[17]: 23 ).
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah,”Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil (QS. al-Isrā’ [17]: 24)
c. Penjelasan QS. al-Isrā’ [17]: 23 – 24
Surat al-Isrā’ ayat 23-24 memiliki kandungan mengenai pendidikan berkarakter, yang dideϐinisikan sebagai satu kesatuan yang membedakan satu dengan yang lain atau dengan kata lain karakter adalah kekuatan moral yang memiliki sinonim beru- pa moral, budi pekerti, adab, sopan santun dan akhlak. Akhlak dan adab sumbernya adalah wahyu yakni berupa al-Qur’an dan Sunah. Sedangkan budi pekerti, moral, dan sopan santun sumbernya adalah ϐilsafat.
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyem- bah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kandungan ayat ini juga menunjukkan betapa kaum muslimin memiliki kedudukan yang sangat tinggi dibanding dengan kaum yang mempersekutukan Allah subḥānahū wa taʻālā. Ayat ini juga menjelas- kan tentang iḥsān (bakti) kepada orang tua yang diperintahkan agama Islam adalah bersikap sopan kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat, sehingga mereka merasa senang terhadap kita, serta men- cukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan kita (sebagai anak).
Dalam Tafsır Ibnu Kaṡır dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada hamba- hamba-Nya untuk menyembah Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Selanjutnya perintah berbakti kepada orang tua. Yakni memerintahkan kepada kita untuk ber- buat baik kepada ibu bapak, dan janganlah kita mengeluarkan kata-kata yang buruk kepada keduanya, sehingga kata-kata “ah” pun yang merupakan kata-kata buruk yang paling ringan tidak diperbolehkan. Janganlah pula bersikap buruk kepada mereka, seperti yang dikatakan oleh Ata Ibnu Rabah sehubungan dengan arti surah tersebut “Dan janganlah kamu membentak mereka” maksudnya janganlah kamu menolakkan tangan kepada keduanya.
Setelah melarang mengeluarkan perkataan dan melakukan perbuatan buruk ter- hadap kedua orang tua, Allah memerintahkan untuk berbuat baik, bertutur sapa baik, dan berlaku sopan santun kepada kedua orang tua dengan rasa penuh hormat dan memuliakannya.
Dalam Tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa ayat-ayat diatas memberi tuntunan kepada anak agar berbakti kepada kedua orang tua secara bertahap. Dimulai den- gan janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”. Lalu dilanjut- kan dengan mengucapkan kata-kata yang mulia. Ini lebih tinggi tingkatannya dari tuntunan pertama karena mengandung pesan penghormatan dan pengagungan me- lalui ucapan. Selanjutnya meningkat lagi dengan perintah untuk berperilaku yang menggambarkan kasih sayang sekaligus kerendahan di hadapan kedua orang tua. Perilaku yang lahir dari rasa kasih sayang yang menjadikan mata sang anak tidak lepas dari orang tua. Sang anak selalu memperhatikan dan memenuhi keinginan orang tuanya. Akhirnya sang anak dituntut untuk mendoakan orang tua sambil
mengingat jasa-jasa mereka terlebih saat kita kecil.
B. QS. Luqmān [31]: 13 – 17
øÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏèt ¢Óo_ç6»t w õ8Îô³è@ «!$$Î/ ( cÎ) x8÷Åe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOÏàtã ÇÊÌÈ $uZø¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷yÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷yÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) çÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ bÎ)ur #yyg»y_ #n?tã br& Íô±è@ Î1 $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ xsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur @Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ ¢Óo_ç6»t !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5Ayöyz `ä3tFsù Îû >ot÷|¹ ÷rr& Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& Îû ÇÚöF{$# ÏNù't $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#ÏÜs9 ×Î7yz ÇÊÏÈ ¢Óo_ç6»t ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã Ìs3ZßJø9$# ÷É9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºs ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ
|
| apa yang menimpamu | كباصأ ام | dan menyapihnya | لاصفو |
| perkara yang penting | روملا مزع | hanya kepada Aku kembalimu | يصملا Ǔإ |
b. Terjemah Ayat
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqmān [31]: 13).
Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tu- anya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu (QS. Luqmān [31]: 14).
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduan- ya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. Luqmān [31]: 15).
(Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan member- inya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha halus, Maha teliti (QS. Luqmān [31]: 16).
Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menim- pamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting (QS. Luqmān [31]: 17).
c. Penjelasan QS. Luqmān [31]: 13 – 17
Ayat 13 menjelaskan bahwa syarat untuk mendidik anak hendaknya dilandasi dengan lemah lembut dan kasih sayang. Kata ‘iẓuhu diambil dari kata wa’ẓ yang bermakna nasihat yang meyangkut berbagai kebajikan dengan cara menyentuh hati, penyampaiannya yakni dengan lemah lembut, tidak membentak, dan panggi- lan sayang pada anak. Kata bunayya mengisyaratkan kasih sayang. Hal ini tentunya juga berlaku kepada para guru dalam mendidik para peserta didiknya.
Dalam ayat 14, Allah menggambarkan kesusahan seorang ibu dalam merawat anaknya, mengapa hanya jasa ibu yang digambarkan den- gan sedemikian lemahnya? Karena peranan ibu lebih berat dari ayah, mu- lai dari proses mengandung, hingga melahirkan dan menyapihnya. Kata wahnan berarti kelemahan atau kerapuhan. Yang dimaksud di sini adalah ibu dalam kondisi sangat lemah saat mengandung anaknya.
Ayat 15 menjelaskan tentang larangan taat kepada orang tua dalam mendurhakai Allah subḥānahū wa taʻālā dan nasihat Luqmān kepada anaknya tentang menolak segala bentuk kemusyrikan di manapun berada. Ayat ini sekaligus memberitahu bahwa mempergauli keduanya dengan baik hanya dalam urusan dunia, bukan ke- agamaan. Seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis-salām, dia tetap berlaku santun kepada bapaknya sekalipun pembuat berhala, namun Nabi Ibrahim tidak sependapat dalam hal akidah.
Pada ayat 16, terdapat kata laṭīf, yang memiliki arti lembut, halus, atau kecil. Dari makna ini muncullah makna ketersembunyian dan ketelitian. Imām al-Gazālı menjelaskan bahwa yang berhak menyandang sifat ini hanyalah Allah. Dialah yang mengetahui perincian kemashlahatan dan seluk beluk rahasianya. Karena Dia selalu menghendaki kemaslahatan untuk makhluk-Nya. Ayat ini menggambarkan kekua- saan Allah subḥānahū wa taʻālā dalam menghitung amal manusia betapapun se- dikitnya.
Ayat 17 menjelaskan tentang amar ma’rūf nahī munkar, yang puncak dan pang- kalnya adalah salat, serta amal kebaikan yang tercermin adalah buah dari salat yang dilaksanakan dengan benar. Kata ‘azm dari segi bahasa berarti kekuatan hati atau tekad.
C. Hadis
a. Riwayat Muslim
مغر مث فنأ مغر مث فنأ مغر لاق ملسو هيلع Ĭا لص بلا نع ةريره بأ نع امهيك وأ امهدحأ بكلا دنع هيوبأ كردأ نم :لاق ؟ Ĭا لوسر اي نم :ليق .فنأ
.(ملسم هاور) ةنلا لخدي ملف
b. Riwayat al-Bukhārī dan Muslim
Ĭا لص بلا Ǔإ لجر ءاج :لوقي امهنع Ĭا ضر ورمع نب Ĭا دبع تعمس دهاجف امهيفف :لاق .معن :لاق ؟كالاو حأ :لاقف داهلا ف هنذأتساف ملسو هيلع
.(ملسمو يراخلا هاور)
1) Terjemah Kosa Kata/Kalimat (Mufradat)
| Terjemah | Lafal | Terjemah | Lafal |
| Seorang laki-laki datang | لجر ءاج | dia celaka! | فنأ مغر |
| meminta izin kepadanya | هنذأتساف | mendapati kedua orang tuanya | هيوبأ كردأ |
| untuk ikut berjihad | داهلا ف | dalam usia lanjut | بكلا دنع |
| apakah dia masih hidup? | حأ | maka dia tidak akan masuk surga | لخدي ملف ةنلا |
2) Terjemah Hadis
Dari Abū Hurairah dari Nabi Muhammad Saw., beliau: “Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” lalu beliau ditanya; “Siapakah yang celaka, ya Rasūlullāh ?” Jawab Nabi : “Ba- rang siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya (namun ia tidak berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya), maka dia tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Aku mendengar ‘Abdullāh bin ‘Amr Ra. berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi, lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka beliau bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab: “Iya”. Maka beliau berkata: “Ke- pada keduanyalah kamu berjihad (berbakti)” (HR. al-Bukhārı dan Muslim).
c. Penjelasan Hadis
Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim tersebut menjelaskan bahwa seseorang akan celaka ketika tidak berbakti kepada orang tua. Kata “Dia celaka” (فنأ مغر) diulang-ulang oleh Rasūlullāh sebanyak tiga kali menunjukkan bahwa celaka akan benar-benar terjadi kepada seseorang yang tidak berbakti kepada orang tua. Hal ini juga menunjukkan betapa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua terlebih lagi ketika kedua orang tua atau salah satu dari mereka masih hidup.
Adapun hadis riwayat al-Bukhārı dan Muslim menjelaskan bahwa berbakti ke- pada kedua orang tua memiliki nilai pahala yang sangat besar. Bahkan nilai pahala berbakti kepada kedua orang tua oleh Rasūlullāh disamakan dengan nilai pahala jihad, berperang, dan melawan kaum kaϐir.
D. Perilaku Orang yang Menghormati dan Mematuhi Orang Tua dan Guru
Sebelum kalian menerapkan perilaku menghormati dan mematuhi orang tua dan guru sebagai implementasi QS. al-Isrā’ [17]: 23-24; QS. Luqmān [31]: 13-17; dan hadis Nabi, terlebih dahulu kalian harus membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. al-Isrā’ [17]: 23-24 sebagai berikut.
1. Selalu beribadah kepada Allah subḥānahū wa taʻālā dan tidak menyekutukan- Nya.
2. Membiasakan berbuat baik (iḥsān) kepada kedua orang tua.
3. Membiasakan untuk tidak berkata-kata buruk kepada kedua orang tua.
4. Selalu bersikap baik dan berlaku sopan santun kepada kedua orang tua dengan rasa penuh hormat dan memuliakannya.
5. Selalu mendoakan orang tua sebagai ungkapan terima kasih seorang anak.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. Luqmān [31]: 13-17 sebagai berikut.
1. Selalu mengesakan Allah subḥānahū wa taʻālā dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun
2. Selalu berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama ibu, karena ia telah mengandung kita dalam kepayahan, melahirkan, merawat dan mendidik kita sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka.
3. Membiasakan diri untuk berbuat baik dan menaati orang tua sepanjang tidak untuk berbuat maksiat kepada Allah dan menyekutukan-Nya.
4. Selalu berbuat baik, karena sekecil apapun perbuatan kita, baik maupun jelek, pasti akan mendapat balasan dari Allah subḥānahū wa taʻālā.
5. Senantiasa menjalankan salat, amar ma’rūf nahī munkar, dan bersabar.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan hadis Nabi sebagai berikut.
1. Selalu berbakti kepada orang tua terutama ketika mereka masih hidup, jika sudah tiadapun kita harus senantiasa mendo’akan mereka.
2. Senantiasa berbakti kepada kedua orang tua karena nilai kebaikannya di sisi
Allah subḥānahū wa taʻālā disejajarkan dengan jihad.
Selain berbakti kepada orang tua, kita juga berkewajiban bersikap hormat dan patuh kepada guru. Kenapa kita harus patuh kepada bapak atau ibu guru? Jasa guru sangat besar bagi murid dan masyarakat, bahkan bagi kemajuan bangsa dan negara. Kita ti- dak akan menjadi pintar tanpa bimbingan guru. Lebih dari itu tugas guru tidak hanya memberikan pelajaran dalam berbagai ilmu pengetahuan kepada muridnya, tetapi juga bertugas mendidik mereka, agar menjadi manusia yang baik yang sehat jasmani dan rohani. Dan kelak diharapkan agar mereka menjadi warga negara yang baik, luhur budi- nya, cinta kepada tanah air dan bangsanya
Guru merupakan orang tua kedua karena orang yang mendidik murid-muridnya un- tuk menjadi lebih baik. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.
Untuk lebih mengingat dalil tentang menghormati dan mematuhi orang tua dan guru, kalian harus menghafal surah al-Isrā’[17]: 23-24; surah Luqmān [31]: 13-17; dan hadis dengan baik dan benar.
Sudahkah kalian memiliki perilaku seperti di atas? Apabila kalian belum memiliki,
maka mulai saat ini cobalah banyak membaca, menghafal, belajar, dan berlatih.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kandungan surah al-Isrā’ [17]: 23-24 meliputi:
Perintah untuk menyembah Allah subḥānahū wa taʻālā dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.
Perintah berbuat baik kepada kedua orang tua.
Perintah untuk bertutur kata, bersikap baik, dan berperilaku sopan santun kepada orang tua
Perintah untuk selalu mendoakan orang tua
2. Kandungan surah Luqmān [31]: 13-17 meliputi:
Perintah untuk mengesakan Allah, tidak menyekutukan-Nya
Perintah berbuat baik kepada orang tua terutama kepada ibu
Perintah menaati orang tua sepanjang tidak untuk berbuat maksiat dan menyekutukan Allah.
Perintah untuk berbuat baik.
Perintah menjalankan salat, amar ma’rūf nahī munkar, dan bersabar
3. Kandungan hadis meliputiperintah untuk senantiasa berbuat baik kepada orang tua, karena nilai kebaikannya sejajar dengan jihad.
4. Selalu menghormati dan menaati guru sebagaimana menghormati dan mentaati orang tua.
B. Saran
Menghormati orang tua dan guru adalah suatu kewajiban yang harus dipatuhi kerena dengan menghormati orang tua dan guru berkah hidup akan lebih mudah didapat.
DAFTAR PUSTAKA
Sarianto, dkk. Pedoman Akademik SDIT Darul Fikri (Tanjungbalai:Deepublish, 2017). Hlm. 104.
Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani. Terjemah Bulughul Maram Kitab Hukum-Hukum Islam. (surabaya : Mutiara Ilmu. 2011). Hlm. 673
K.H. muhyiddin Abdusshomad. Hujjah NU Akidah-Amaliah-Tradisi. (jember : Khalista Surabaya. 2015). Hlm. 110

Comments
Post a Comment