K.H. AHMAD DAHLAN DAN KH. M. HASYIM ASY’RI



TAHUN AJARAN 2018/2019

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang hingga saat ini masih memberikan kita nikmat iman dan kesehatan, sehingga saya diberi kesempatan yang luar biasa ini yaitu kesempatan untuk menyelesaikan tugas penulisan makalah tentang “K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. M. HASYIM ASY’RI.
Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita haturkan untuk junjungan nabi gung kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjukan Allah SWT untuk kita semua, yang merupakan sebuah pentunjuk yang paling benar yakni Syariah agama Islam yang sempurna dan merupakan satu-satunya karunia paling besar bagi seluruh alam semesta.
Sekaligus pula kami menyampaikan rasa terimakasih yang sebanyak-banyaknya guru mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam  yang telah menyerahkan kepercayaannya kepada kami guna menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Kami juga berharap dengan sungguh-sungguh supaya makalah ini mampu berguna serta bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan terkait biografi, perjalanan dan karya/peninggalan tokoh tersebut.
Selain itu kami juga sadar bahwa pada makalah kami ini dapat ditemukan banyak sekali kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami benar-benar menanti kritik dan saran .
Di akhir kami berharap makalah sederhana kami ini dapat dimengerti oleh setiap pihak yang membaca. Kami pun memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam makalah kami terdapat perkataan yang tidak berkenan di hati.


Penyusun,



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah............................................................................................. 1
C.     Tujuan Penulisan............................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.    K.H. Ahmad Dahlan ......................................................................................... 2
1.      Biografi K.H. Ahmad Dahlan..................................................................... 2
2.      Usaha K.H. Ahmad Dahlan pembaharuan pemikian Islam.................... 3
3.      Karya dan Lembaga yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan............. 4
B.     K.H. M. Hasyim Asy’ri...................................................................................... 5
1.      Biografi K.H. M. Hasyim Asy’ri................................................................. 5
2.      Perjuangan Kemerdekaan.......................................................................... 6
3.      Karya Kitab Klasik...................................................................................... 7
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan......................................................................................................... 9
B.     Saran................................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
K.H. Ahmad Dahlanyang mempunyai nama kecil Muhammad Darwisy adalah seorang pahlawan nasional yang juga pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. Ia bergabung sebagai anggota Boedi Oetomo yang merupakan organisasi kepemudaan pertama di Indonesia. Ia adalah sosok pemuda pembaharu yang sangat mengedapankan idealisme dalam hidupnya terutama dalam bidang pendidikan. Disamping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat. Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
KH Hasyim Al Asy’ari adalah seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Ia juga pendiri pesantren Tebuireng, Jawa Timur dan dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.
Pada kesempatan kali ini kami akan membahas lebih dalam lagi tentang KH. Ahmad Dahlan dan KH. M. Hasyim Asy’Ari.
B.     Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang di atas, kami mendapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana Biografi, perjalanan dan karya K.H. Ahmad Dahlan?
2.      Bagaimana Biografi, perjuangan dan karya/peninggalan K.H. M. Hasyim Asy’ri?

C.     Tujuan Penulisan
Dilihat dari rumusan masalah di atas kami mendapatkan tujuan penulisan sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui tentang perjalanan hidup K.H. Ahmad Dahlan
2.      Guna menambah wawasan tentang pelajalanan dan karya K.H. M. Hasyim Asy’ri
3.      Guna memenuhi syarat nilai mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    K.H. Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah
1.      Biografi K.H. Ahmad Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa. Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana ‘Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).
Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah. Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta. KH. Ahmad Dahlan dimakamkan di KarangKajen, Yogyakarta.
Pada usia 54 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923, Kiai Haji Akhmad Dahlan wafat di Yogyakarta. Beliau kemudian dimakamkan di kampung Karangkajen, Brontokusuman, wilayah bernama Mergangsan di Yogyakarta.
2.      Usaha KH Ahmad Dahlan Pembaharuan Pemikiran Islam
            Pembaharuan dalam kehidupan keagamaan bisa berupa pemikiran maupun gerakan, sebagai reaksi atau tanggapan terhadap keyakinan dan urusan sosial umat islam. Ada dua kecenderungan pembaharuan, yaitu salafi yang mengutamakan pemurnian ibadah dan akidah dari bid’ah, khurahat, tahayul dan syirik, maupun kecenderungan kearag modernism. Kecenderungan kedua adalah  reformis/modernis, gerakan ini mengarah pada pembaharuan bidang pendidikan , politik, sosial, budaya, mengangkat harkat martabat kaum wanita.
KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 Nopember 1912 di Yogyakarta, yang bergerak dibidang keagamaan, pendidikan, sosial budaya dan kesehatan. Muhammdiyah berdiri setelah organisasi islam sebelumnya tidak lagi menunjukkan aktifitasnya, yakni Jami’atul Khair (Didirikan oleh orang-orang Arab) dan Al-Irsyad (Keduanya hanya bergerak dibidang pendidikan). Sebelumnya pada 1909 KH Ahmad Dahlan juga memasuki perkumpulan Budi Utomo, satu-satunya organisasi yang ditata secara modern pada waktu itu. Ia mengharapkan agar ia dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggota perkumpulan itu, dan selanjutnya mereka akan meneruskannya ke kantor dan sekolah masing-masing. Demikian juga ia mengharapkan agar guru-guru yang telah mendengar ceramahnya selanjutnya menyampaikannya lagi kepada muridnya masing-masing.
Ceramah Ahmad Dahlan kepada para anggota Budi Utomo mendapat tanggapan positif dan mereka menyarankan agar Ahmad Dahlan mendirikan sekolah yang teratur secara organisatoris dan sesuai dengan sekolah modern. Saran ini kemudian berhasil dipenuhi pada tahun 1911 dengan mendirikan sekolah dengan sistem sebagaiman sekolah Belanda, bukan lagi belajar di surau. Di sekolah ini, yang diajarkan bukan saja ilmu-ilmu agama, melainkan juga ilmu-ilmu umum seperti berhitung, ilmu bumi dan ilmu tubuh manusia. Murid perempuan-perempuan tidak lagi dipisahkan dari murid laki-laki, sebagaimana di surau-surau.
Alasan berdirinya Muhammadiyah yaitu: tidak murninya Islam di Indonesia, pendidikan Islam tidak maju, kemiskinan rakyat, adanya misi Kristen, umat islam bersifat fanatisme sempit, taklid buta, masih diwarnai konservartisme, formalism dan tradisionalisme.
            Sebenarnya usaha pemabaruan KH. Ahmad Dahlan sudah dimulai sejak 1896, yaitu:
1.            Mendirikan surau dengan arah kiblat yang benar dan berlanjut membuat garis shaf di Masjid Agung, yang akibatnya tidak hanya garis shaf harus dihapus, tapi suraunya di bongkar.
2.            Menganjurkan supaya berpuasa menurut dan berhari raya menurut hisab
3.            Penolakan terhadap bid’ah dan khufarat
Menurut KH Ahmad Dahlan upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari pola pikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Oleh karena itu pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat.
Mereka hendaknya dididik agar cerdas, kritis dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memeta dinamika kehidupannya pada masa depan. Adapun kunci untuk meningkatkan kemajuan umat islam adalah kembali kepada al-Quran dan hadits. Mengarahkan umat pada pengembangan ajaran islam secara komprehensif, menguasai berbagai disiplin ilmu pegetahuan. Upaya ini secara strategis dapat dilakukan melalui pendidikan. Kemudian Ahmad Dahlan secara pribadi merintis pembentukan sebuah sekolah yang memadukan pengajaran ilmu agama islam dan umum.
3.      Karya-karya dan Lembaga yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan
Karya-karya dan Lembaga yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan
1.            Sekolah Calon Guru, “Al-Qismul Arqa’”
2.            Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (Setaraf dengan Volkschool)
3.            Dalam buku Islamic Movement in Indonesia, yang diterbitkan Pusat ,Muhammadiyah, diungkapkan bahwa jumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah dari TK-Perguruan Tnggi tidak kurang dari 9500 unit.
4.            Mencetak selebaran berisi doa sehari-hari, jadwal sholat, jadwal puasa ramadhan, dan masalah agama islam lainnya.
5.            Menerbitkan buku-buku meliputi masalah fiqih, akaid, tajwid, hadist, sejarah Para Nabi dan Rasul dan terjemahan ayat-ayat al-Quran mengenai akhlak dan hukum.
6.            Menerbitkan terjemahan bku-buku untuk pengajian tingkat lanjut bagi orang tua, seperti Maksiat Anggota yang Tujuh dari Ihyaul Ulumiddin karya Al- Ghazali.
7.            Terbitan lainnya yaitu, Rukuning Islan lan Iman, Aqaid, Salat, Asmaning Para Nabi kang selangkung, Nasab Dalem Sarta Putra Dalem Kanjeng Nabi, Sarat lan Rukuning Wudhu Tuwin salat,Rukun lan Bataling Shiyam, Bab Ibadah lan Maksiyating Nggota utawi Poncodriyo, serta tulisan syeikh Abdul Karim Amrullah di dalam sejarah Al-Munir yang di termahkan ke dalam bahasa jawa.
8.            Panti Asuhan Yatim Piatu (PAYP), Khusus PAYP putra diasuh oleh Muhammadiyah, sedangkan PAYP putri diasuh oleh Aisyiah.
9.            Majlis Pembina Kesehatan dan Majlis Penegmbanagan Masyarakat.
10.        Ikatan Seniman dan Budayawan Muhammadiyah (ISBM), namun ada kendala dalam lemabag ini baik kurangnya dukungan dari ulama ataupun kondisi politik yang kurang kondusif. Namun, berdasarkan keputusan Munas tarjih ke-22 tahun 1995 ditetapkan bahwa seni hukumnya mubah selama tidak mengakibatkan kerusakan, bahaya, kedurhakaan, dan terjauhkan dari Allah.
11.        Majlis Ekonomi Muhammadiyah

B.     Biografi KH M. Hasyim  Asy’ari

1.            Biografi KH. M. Hasyim Asy’ari
 
KH. Hasyim Asy’ari lahir pada tanggal 10 April 1875, di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Dan pada tanggal 25 Juli 1947 (72 tahun) beliau dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang. Beliau merupakan pendiri Nahdhatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia serta putra dari Kyai Asy’ari. Beliau adalah ulama sekaligus pemimpin dari Pondok Pesantren Keras, berada di selatan Jombang. Sementara ibunda beliau bernama Halimah, memiliki silsilah keturunan dari Raja Brawijaya VI, yang dikenal dengan Lembung Peteng, ayahanda dari Jaka Tingkir (Raja Pajang). Sedangkan keturunan ke delapan dari Jaka Tingkir adalah kakenya, Kyai Ustman yang memimpin Pondok Pesantren Gedang, dengan seluruh santri berasal dari Jawa pada akhir 19. Ayah dari kakek beliau yaitu Kyai Sihah yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang. Di kalangan Nahdhiyin dan ulama pesantren KH. Hasyim Asy’ari dijuluki Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.
KH. Hasyim merupakan putra ketiga dari sebelas bersaudara. Sejak beliau berumur 14 tahun telah banyak mendapat wejangan serta pengajaran tentang ilmu agama langsung dari ayah dan kakek beliau. Berbagai motivasi besar yang beliau dapatkan dari kalangan keluarga, serta minat besar dalam menuntut ilmu yang beliau miliki, membuat KH. Hasyim Asy’ari muda tumbuh menjadi seorang yang pandai. Beliau juga pernah mendapat sebuah kesempatan yang diberikan sang ayah untuk membantu mengajar di pesantrennya, karena kepandaian beliau.
Ketika usia menginjak 15 tahun, beliau berkelana (mondok) di pesantren lain. Hal ini karena beliau merasa belum cukup menimba ilmu yang diterima sebelumnya. Tak hanya satu pondek pesantren saja beliau singgahi, tapi banyak pondok pesantren yang disinggahinya, antara lain menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semarang), Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). Ketika beliau merantau di Ponpes Siwalan beliau belajar kepada Kyai Jakub, dan akhirnya beliau dijadikan menantu Kyai Jakub.
Pada tahun 1892, KH. Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah Haji, beliau di Mekkah sekaligus menimba ilmu kepada Syech Ahmad Khatib dan Syech Mahfudh At-Tarmisi, merupakan guru di bidang Hadist. Ketika pulang, KH. Hasyim Asy’ari menyempatkan diri untuk singgah ke Johor, Malaysia. Di sana beliau mengajar kepada para santri sampai tahun 1899.
Kyai Hasyim Asy’ari mendirikan ponpes di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di tanah Jawa pada abad ke-20. Mulai tahun 1900, beliau memosisikan Pesantren Tebuireng menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam Tradisional.
Dalam pesantren tersebut bukan hanya ilmu agama yang diajarkan, namun juga pengetahuan umum ikut mengiringi pengajaran agama Islam. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato. Cara demikian mendapat sambutan tidak mengenakkan dirinya, karena dikecam bid’ah. Meskipun kecamatan itu terus bergulir tapi beliau tetap teguh dalam pendiriannya.
Menurutnya, mengajarkan agama Islam berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, adalah salah satu tujuan utama perjuangan Kyai Hasyim Asy’ari. Meski mendapat kecaman, pesantren Tebuireng menjadi masyur ketika para santri angkatan pertama berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah dan ikut manjadi besar.
Pada Tanggal 7 Ramadhan 1366 M. jam 9 malam, beliau setelah mengimami Shalat Tarawih, sebagaimana biasanya duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian, tiba-tiba datanglah seorang tamu utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Sang Kiai menemui utusan tersebut dengan didampingi Kiai Ghufron, kemudian tamu itu menyampaikan pesan berupa surat. Entah apa isi surat itu, yang jelas Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berfikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya.

2.            Pejuang Kemerdekaan

Peran KH. M. Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada bidang keilmuan dan keagamaan, melainkan juga dalam bidang sosial dan kebangsaan, beliau terlibat secara aktif dalam perjuangan membebaskan bangsa dari penjajah belanda.
Pada tahun 1937 beliau didatangi pimpinan pemerintah belanda dengan memberikan bintang mas dan perak tanda kehormatan tetapi beliau menolaknya. Kemudian pada malam harinya beliau memberikan nasehat kepada santri-santrinya tentang kejadian tersebut dan menganalogkan dengan kejadian yang dialami Nabi Muhammad SAW yang ketika itu kaum Jahiliyah menawarinya dengan tiga hal, yaitu:
  • Kursi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan
  • Harta benda yang berlimpah-limpah
  • Gadis-gadis tercantik
Akan tetapi Nabi SAW menolaknya bahkan berkata: “Demi Allah, jika mereka kuasa meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku dengan tujuan agar aku berhenti dalam berjuang, aku tidak akan mau menerimanya bahkan nyawa taruhannya”. Akhir KH.M. Hasyim Asy’ari mengakhiri nasehat kepada santri-santrinya untuk selalu mengikuti dan menjadikan tauladan dari perbuat Nabi SAW.
Masa-masa revolusi fisik di Tahun 1940, barang kali memang merupakan kurun waktu terberat bagi beliau. Pada masa penjajahan Jepang, beliau sempat ditahan oleh pemerintah fasisme Jepang. Dalam tahanan itu beliau mengalami penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangan beliau menjadi cacat. Tetapi justru pada kurun waktu itulah beliau menorehkan lembaran dalam tinta emas pada lembaran perjuangan bangsa dan Negara republik Indonesia, yaitu dengan diserukan resolusi jihad yang beliau memfatwakan pada tanggal 22 Oktober 1945, di Surabaya yang lebih dikenal dengan hari pahlawan nasional.
Begitu pula masa penjajah Jepang, pada tahun 1942 Kiai Hasyim dipenjara (Jombang) dan dipindahkan penjara Mojokerto kemudian ditawan di Surabaya. Beliau dianggap sebagai penghalang pergerakan Jepang.
Setelah Indonesia merdeka Pada tahun 1945 KH. M. Hasyim Asy’ari terpilih sebagai ketua umum dewan partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) jabatan itu dipangkunya namun tetap mengajar di pesantren hingga beliau meninggal dunia pada tahun 1947.

3.            Karya Kitab Klasik

Peninggalan lain yang sangat berharga adalah sejumlah kitab yang beliau tulis disela-sela kehidupan beliau didalam mendidik santri, mengayomi ribuan umat, membela dan memperjuangkan bumi pertiwi dari penjajahan. Ini merupakan bukti riil dari sikap dan perilakunya, pemikirannya dapat dilacak dalam beberapa karyanya yang rata-rata berbahasa Arab.
Tetapi sangat disayangkan, karena kurang lengkapnya dokumentasi, kitab-kitab yang sangat berharga itu lenyap tak tentu rimbanya. Sebenarnya, kitab yang beliau tulis tidak kurang dari dua puluhan judul. Namun diakungkan yang bisa diselamatkan hanya beberapa judul saja, diantaranya:
  1. Al-Nurul Mubin Fi Mahabati Sayyidi Mursalin. Kajian kewajiban beriman, mentaati, mentauladani, berlaku ikhlas, mencinatai Nabi SAW sekaligus sejarah hidupnya
  2. Al-Tanbihat al-Wajibat Liman Yashna’u al-Maulida Bi al-Munkarat. Kajian mengenai maulid nabi dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar
  3. Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Kajian mengenai pandangan terhadap bid’ah, Konsisi salah satu madzhab, dan pecahnya umat menjadi 73 golongan
  4. Al-Durasul Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘asyaraoh. Kajian tentang wali dan thoriqoh yang terangkum dalam sembilan belas permasalahan.
  5. Al-Tibyan Fi Nahyi’an Muqatha’ah al-Arham Wa al-Aqrab Wa al-Akhwal. Kajian tentang pentingnya jalinan silaturahmi antar sesama manusia
  6. Adabul ‘Alim Wa Muata’alim. Pandangan tentang etika belajar dan mengajar didalam pendidikan pesantrren pada khususnya
  7. Dlau’ al-Misbah Fi Bayani Ahkami Nikah. Kajian hukum-hukum nikah, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan
  8. Ziyadah Ta’liqot. Kitab yang berisikan polemic beliau dengan syaikh Abdullah bin yasir Pasuruaan


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
KH. Ahmad Dahlan lahir dikampung Kauman, Yogyakarta, pada tanggal 1 agustus 1868. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara. Lahir di lingkungan sangat religius. Memperoleh pendidikan dengan cara homeschooling dan setelah dewasa menimba ilmu dari satu guru ke guru yang lain karena KH Ahmad Dahlan tidak pernah merasa puas hanya dengan satu guru.
            Mendirikan organisasi islam, Muhammadiyah pada 18 Nopember 1912 di Yogyakarta, berangkat dari keprihatinnanya pada islam di Indonesia yang terselubungi dengan syirik dan khufarat.
            Menurut KH Ahmad Dahlan upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari pola pikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat.
K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan ponpes di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di tanah Jawa pada abad ke-20. Mulai tahun 1900, beliau memosisikan Pesantren Tebuireng menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam Tradisional. Beliau mengajarkan agama Islam berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, adalah salah satu tujuan utama perjuangan Kyai Hasyim Asy’ari. Meski mendapat kecaman, pesantren Tebuireng menjadi masyur ketika para santri angkatan pertama berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah dan ikut manjadi besar.

B.     Saran
Sebagai umat Islam sudah seharusnya saling membantu serta menyiarkan agama Islam keseluruh umat. Karena Islam adalah agama yang di ridhai Allah SWT.
Kami sebagai penulis penyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu saran dan kritik sangat kami harapkan





DAFTAR PUSTAKA
Hery Sucipto, KH. Ahmad Dahlan, Sang Pencerah, Pendidik dan Pendiri Muhammadiyah. (Jakarta: Best Media Umat,2010)
Sudarno Shobron, Studi Kemuhammadiyahan (Surakarta: LPID Univ. Muhammadiyah Surakarta.2008)
Pembaruan Sosial Keagamaan, (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.2010).
 Weinata Sairin, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995)
M. Sukardjo & Ukim Komarudin, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya (Jakarta: Raja Grafindo Press,2009)
http://sosok-tokoh.blogspot.com/2016/05/biografi-singkat-kh-hasyim-asyari.htmldiakses pada hari Selasa tanggal 18 September 2018 pukul 19.32 WITA
http://bio.or.id/biografi-k-h-ahmad-dahlan/ diakses pada hari Selasa tanggal 18 September 2018 pukul 19.32 WITA

Comments