KATA PENGANTAR
Puji dan syukur patut kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah melimpahkan hidayah-Nya, sehingga makalah mengenai “NAIK TURUNNYA HARGA TELUR
” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Kami juga mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalahini dan berbagai sumber yang telah kami pakai sebagai data dan fakta pada makalah ini.
Kami menyadari banyak hambatan dan kesulitan dalam menyelesaikan makalahini. Dimulai dari tahap persiapan, pencarian materi, dan penyusunan, sampai pada tahap penyelesaian.
Selain itu, kami pun menyadari bahwa tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalahini tentu jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kami menerima semua kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan makalah ini.
Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................................ 1
C. Tujuan Penulisan.................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian perilaku konsumen............................................................................. 2
B. Pengertian pemasaran........................................................................................... 2
C. Perbandingan harga telur ayam............................................................................ 2
D. Rentang harga dari peternak sampai konsumen................................................... 4
E. Penyebab Kenaikan Harga telur........................................................................... 5
F. Upaya pemerintah mengatasi harga telur............................................................. 5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan........................................................................................................... 7
B. Saran .................................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut data Direktorat Jenderal Peternakan, tingkat konsumsi terhadap komoditas telur bangsa Indonesia masih sangat rendah. Tingkat konsumsi telur di Indonesia baru mencapai 6,78 kg per kapita per tahun. Tak hanya tingkat konsumsi telur yang rendah, tetapi juga tingkat konsumsi protein hewani secara keseluruhan (daging, ikan dan susu) juga masih sangat rendah. Jika kondisi seperti ini tidak segera ditangani dengan serius maka bencana yang lebih besar akan segera melanda, yaitu hilangnya generasi penerus masa depan akibat kekurangan protein. Telur merupakan hasil ternak yang mempunyai peranan penting dalam mengatasi masalah gizi masyarakat. Konsumsi telur lebih besar daripada konsumsi hasil ternak lain karena mudah diperoleh dan harga yang relatif murah dan terjangkau bagi masyarakat yang mempunyai daya beli rendah.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian perilaku konsumen?
2. Apa Pengertian pemasaran?
3. Bagaimana Perbandingan harga telur ayam?
4. Bagaimana Rentang haarga dari peternak sampai konsumen?
5. Apa Penyebab Kenaikan Harga telur?
6. Bagaimana Upaya pemerintah mengatasi harga telur?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan guna memenuhi tugas dan mengetahui tentang naik turunnya harga telur.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Perilaku Konsumen
Istilah perilaku konsumen seringkali digunakan atau dipakai untuk menjelaskan perilaku dari konsumen yang membeli dan menggunakan produk dan jasa. Sikap dan perilaku konsumen akan mempunyai peranan yang cukup besar dalam menentukan strategi pemasaran yang tepat.
2.2. Pengertian Pemasaran
Menurut pendapat Kotler (2007:8) pemasaran sebagai berikut : “Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain”. Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa pemasaran merupakan interaksi di dalam proses sosial dan manajerial antara individu dan kelompok untuk memperoleh kebutuhan dan keinginan mereka. Sedangkan kegiatan yang ada di dalam pemasaran tersebut meliputi : menciptakan sesuatu, menawarkan sesuatu, serta menukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
2.3. Perbandingan Harga Telur Ayam
Menurut data Kompas (13/7/2018), harga telur ayam tahun ini justru semakin naik pascalebaran. Harga rata-rata telur ayam di pasar-pasar tradisional di DKI Jakarta naik dari Rp. 23.919 per kg (14/6/2018) menjadi Rp. 27.860 per kg (12/7/2018). Kenaikannya mencapai 16,4% dan tercatat sebagai harga tertinggi sejak 1 Januari 2018.
Kondisi di atas sangat jauh berbeda dengan yang terjadi di dua tahun sebelumnya. Di Tahun 2017, harga telur ayam turun pascalebaran yang kemudian di beberapa pekan setelah lebaran anjlok hingga berada di harga Rp. 16.000 per kg, harganya lebih rendah dari ongkos produksinya, yaitu Rp. 18.000.

Demikian juga di Tahun 2016, harga telur ayam berangsur turun setelah naik di bulan Juni sekitar 5,86 persen. Saat itu para peternak meminta pemerintah untuk menjaga harga agar stabil di atas ongkos produksi untuk menjaga kelangsungan industri perunggasan dalam negeri.
Prognosis (prediksi) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian produksi telur ayam tahun 2018 sangat mencukupi permintaan pasar, bahkan lebih. Bahkan diklaim tak aka nada kenaikan harga karena ada kelebihan persediaan sekitar 202.000 ton. Dilihat dari permintaan konsumen tahun ini sekitar 2,276 juta ton, sedangkan ketersediaan telur ayam tersebut 2,96 juta ton (ditjenpkh.pertanian.go.id)
Untuk Mei-Juni 2018 saja, ketersediaan telur ayam sekitar 521.335 ton, sedangkan kebutuhan konsumen sekitar 485.831 ton. Ini berarti ada surplus sekitar 35.504 ton. Tapi apa yang terjadi di lapangan. Prediksinya meleset, jauh dari fakta objektif di pasar.
Harga telur ayam terus merangkak naik, tak bisa ditahan. Rakyat kecil yang menjadi korban. Mereka babak belur tanpa ampun, terus-terusan digempur harga telur yang tak mau mundur. Ibu-ibu rumah tangga, khususnya, merasakan sekali dampak dari kenaikan harga telur ini. Mereka harus mengeluarkan anggaran lebih untuk memenuhi kebutuhan dapurnya agar terus bisa ngebul.
2.4. Rentang Harga Telur Dari Peternak Sampai Konsumen
Perlu kita ketahui bahwa distribusi telur itu untuk sampai ke konsumen melalui beberapa tahap, jadi tidak langsung dari peternak langsung diecer ke konsumen. Sebagai gambaran, untuk distribusi telur kira-kira seperti ini, dari peternak telur diambil oleh pengepul, kemudian ke distributor, dari distributor ini telur di distribusikan lagi ke Distributor di luar kota. Selanjutnya dari distributor ini telur di distribusikan lagi ke agen/grosiran, dari grosiran baru ke pengecer dan dari pengecer terus ke konsumen.
Misalkan harga dari peternak 10.800, maka pengepul akan menjual ke distributor 11.000, tentu saja ini bukan merupakan keuntungan bersih, karena masih harus di potong dengan biaya operasional dan biaya transportasinya dari peternak sampai ke gudang. Misalkan saja pengepul ini mempunyai omset 4 ton dalam 1 minggu, kelihatannya untungnya sangat besar yaitu sekitar 800.000 dalam 1 minggu. Tetapi... harus kita sadari bahwasanya angka 800 ribu itu tidak diperoleh dalam 1 hari. Tetapi dalam 1 minggu. Karena pengambilan dari peternak itu waktunya tidak bersamaan, sehingga tiap hari harus selalu mengeluarkan biaya transportasi dan biaya operasional untuk karyawannya. Anggaplah biaya operasional dalam 1 hari tersebut untuk bensin dan karyawan adalah 75 ribu, maka keuntungannya pun sebenarnya juga cuma 175 ribu dalam 1 minggu atau 25 ribu per hari.
Selanjutnya dari pengepul ini telur dibeli oleh distributor untuk dikirim ke luar kota. Misalnya di dikirim ke ternate. Distributor biasanya mengambil keuntungan sekitar 100/200 rupiah perbutir untuk penjualannya. dan resiko komplain susut timbangan atau bentes (telur pecah) dari pembelinya. Belum lagi resiko diperjalanan harus ditanggung oleh para distributor ke luar kota ini. Jadi seperti itulah sebuah gambaran mengapa rentang harga telur itu dari peternak sampai kekonsumen cukup tinggi. Operasi pasar agar dapat menekan harga dari telur
2.5.PENYEBAB KANAIKAN HARGA TELUR
· Ada pada pembatasan pembibitan dan kedua adalah pembatasan obat yang berujung pada produksi ayam melambat. Jika biasanya dalam waktu tiga bulan ayam sudah besar dan bisa bertelur, dengan pembatasan obat tersebut harus menunggu hingga empat bulan.
· Faktor cuaca ekstrim juga menyebabkan kenaikan harga telur .Sebab, akibat cuaca ekstrim tingkat produktivitas para peternak ayam menurun.
· Kenaikan harga komoditas tersebut juga dipengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat
· Naiknya harga telur dipicu oleh kenaikan pakan
2.6.UPAYA PEMERINTAH MENGATASI KENAIKAN HARGA TELUR
Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan melakukan beberapa langkah untuk mengantisipasi sebagai berikut :
1. Kenaikan harga telur ayam yang mencapai Rp31 ribu per kilogram (kg). Hal tersebut dilakukan dengan melakukan intervensi pasar. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan langkah-langkah yang akan dilakukan jika harga di pasaran dalam satu minggu tidak mengalami penurunan sejak hari ini. Langkah tersebut dilakukan dengan meminta integrator atau pedagang besar untuk menggelontorkan telur ke pasar.
2. Melakukan pemotongan rantai distribusi perdagangan yang memakan waktu lama. Sehingga beberapa oknum memanfatkan situasi tersebut dengan menaikkan harga.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Harga beli menunjukkan bahwa hubungan antara variabel harga beli dengan jumlah permintaan telur ayam cukup positif yang berarti bahwa pengaruh variabel harga dan harga beli berpengaruh signifikan terhadap jumlah permintaan telur ayam oleh konsumen di Pasar bastiong, kota ternate.
3.2. Saran
Untuk pengaruh harga telur ayam dapat dilihat dalam pemasaran pada umumnya, maka pihak pemasar atau pedagang perlu memperhatikan terutama pendapatan masyarakat setempat dan masyarakat yang suka konsumsi terlur ayam.
DAFTAR PUSTAKA
Bendung amang (1996). Analisa-Prilaku-Konsumen-Terhadap-Telur-Ayam Fak. Peternakan-Unhas
Rustam. 2002. Analisis Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Telur Ayam Ras Pada Rumah Tangga Di Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso, Makassar. Fakultas Peternakan. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Nisar. 2009. Manfaat Telur. http;//nizarary. Blogspot.com. Diakses pada tanggal 22 September 2009.
Kotler. 2007. Statistika pemasaran.Alafabeta. Jakarta.
Comments
Post a Comment