MASYARAKAT MULTIKULTURAL



MAKALAH SOSIOLOGI
(MASYARAKAT MULTIKULTURAL)



KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Masyarakat Multikultural tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini, kami banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak hambatan khususnya  kepada Ibu Jusnawati,S.Pd selaku guru mata peajaran sosiologi sehingga makalah ini bisa teratasi dan  kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.


Lamuru,26 Januari 2018
Penulis,




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A.    Latar Belakang............................................................................................... 1
B.     Rumusan masalah........................................................................................... 1
C.     Tujuan penulisan............................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................... 2
A.    Pentingnya pendidikan Multikultural............................................................ 2
B.     Sikap empati dan toleransi............................................................................. 5
C.     Menghadapi keanekaragaman kelompok sosial dalam masyarakat multikultural       7
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................................................... 9
B.     Saran ............................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA


BAB  I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Istilah Multikultural akhir-akhir ini mulai diperbincangkan di berbagai kalangan berkenaan dengan merebaknya konflik etnis di negara ini. Multikultural yang dimiliki Indonesia dianggap faktor utama terjadinya konflik. Konflik berbau SARA yaitu suku, agama, ras, dan antargolongan yang terjadi di Aceh, Ambon, Papua, Kupang, Maluku dan berbagai daerah lainnya adalah realitas yang dapat mengancam integrasi bangsa di satu sisi dan membutuhkan solusi konkret dalam penyelesaiannya di sisi lain. Hingga muncullah konsep multikulturalisme. Multikulturalisme dijadikan sebagai acuan utama terbentuknya masyarakat multikultural yang damai. 

B.     Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang di atas kami mendapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana Pentingnya pendidikan Multikultural?    
2.      Bagaimana Sikap empati dan toleransi?        
3.      Bagaimana Menghadapi keanekaragaman kelompok sosial dalam masyarakat multikultural
C.    Tujuan Penulisan
Dilihat dari rumusan masalah di atas penulis memiliki tujuan sebagai berikut :
1.      Guna mengetahui tentang Pentingnya pendidikan Multikultural      
2.      Guna memahai Sikap empati dan toleransi    
3.      Guna mengetahui cara menghadapi keanekaragaman kelompok sosial dalam masyarakat multikultural




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pentingnya Pendidikan Multikultural di Indonesia
       Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam masyarakat yang berbeda seperti agama, suku, ras, kebudayaan, adat istiadat, bahasa, dan lain sebagainya menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang majemuk. Dalam kehidupan yang beragam seperti ini menjadi tantangan untuk mempersatukan bangsa Indonesia menjadi satu kekuatan yang dapat menjunjung tinggi perbedaan dan keragaman masyarakatnya.
       Hal ini dapat dilakukan dengan pendidikan multikultural yang ditanamkan kepada anak-anak lewat pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Seorang guru bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan terhadap anak didiknya dan dibantu oleh orang tua dalam melihat perbedaan yang terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun pendidkan multikultural bukan hanya sebatas kepada anak-anak usia sekolah tetapi juga kepada masyarakat Indonesia pada umumnya lewat acara atau seminar yang menggalakkan pentingnya toleransi dalam keberagaman menjadikan masyarakat Indonesia dapat menerima bahwa mereka hidup dalam perbedaan dan keragaman.
       Ada tiga tantangan besar dalam melaksanakan pendidikan multikultural di Indonesia, yaitu:
1.      Agama, suku bangsa dan tradisi
    Agama secara aktual merupakan ikatan yang terpenting dalam kehidupan orang Indonesia sebagai suatu bangsa. Bagaimanapun juga hal itu akan menjadi perusak kekuatan masyarakat yang harmonis ketika hal itu digunakan sebagai senjata politik atau fasilitas individu-individu atau kelompok ekonomi. Di dalam kasus ini, agama terkait pada etnis atau tradisi kehidupan dari sebuah masyarakat.
2.      Kepercayaan
      Unsur yang penting dalam kehidupan bersama adalah kepercayaan. Dalam masyarakat yang plural selalu memikirkan resiko terhadap berbagai perbedaan. Munculnya resiko dari kecurigaan/ketakutan atau ketidakpercayaan terhadap yang lain dapat juga timbul ketika tidak ada komunikasi di dalam masyarakat/plural. 
3.      Toleransi
        Toleransi merupakan bentuk tertinggi, bahwa kita dapat mencapai keyakinan. Toleransi dapat menjadi kenyataan ketika kita mengasumsikan adanya perbedaan. Keyakinan adalah sesuatu yang dapat diubah. Sehingga dalam toleransi, tidak harus selalu mempertahankan keyakinannya.Untuk mencapai tujuan sebagai manusia Indonesia yang demokratis dan dapat hidup di Indonesia diperlukan pendidikan multikultural.

Adapun pentingnya pendidikan multikultural di Indonesia yaitu sebagai sarana alternatif pemecahan konflik, peserta didik diharapkan tidak meninggalkan akar budayanya, dan pendidikan multikultural sangat relevan digunakan untuk demokrasi yang ada seperti sekarang.
1.         Sarana alternatif pemecahan konflik
Penyelenggaraan pendidikan multikultural di dunia pendidikan diakui dapat menjadi solusi nyata bagi konflik dan disharmonisasi yang terjadi di masyarakat, khususnya di masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam unsur sosial dan budaya. Dengan kata laun, pendidikan multikultural dapat menjadi sarana alternatif pemecahan konflik sosial-budaya
Struktur kultural masyarakat Indonesia yang amat beragam menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk mengolah perbedaan tersebut menjadi suatu aset, bukan sumber perpecahan. Saat ini pendidikan multikultural mempunyai dua tanggung jawab besar, yaitu menyiapkan bangsa Indonesia untuk mengahadapi arus budaya luar  di era globalisasi dan menyatukan bangsa sendiri yang terdiri dari berbagai macam budaya.
Pada kenyataannya pendidikan multikultural belum digunakan dalam proporsi yang benar. Maka, sekolah dan perguruan tinggi sebagai instirusi pendidikan dapat mengembangkan kurikulum pendidikan multikultural dengan model masing-masing sesuai dengan otonomi pendidikan atau sekolahnya sendiri.
Model-model pembelajaran mengenai kebangsaan memang sudah ada. Namun, hal itu masih kurang untuk dapat mengahargai perbedaan masing-masing suku, budaya maupun etnis. Hal ini dapat dilihat dari munculnya berbagai konflik dari realitas kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Hal ini berarti bahwa pemahaman mengenai toleransi di masyarakat masih sangat kurang.
Perubahan yang diharapkan adalah pada terciptanya kondisi yang nyaman, damai, toleran dalam kehidupan masyarakat, dan tidak selalu muncul konflik yang disebabkan oleh perbedaan budaya dan SARA.

2.         Agar peserta didik tidak meinggalkan akar budaya
Selain sebagai sarana alternatif pemecahan konflik, pendidikan multikultural juga signifikan dalam upaya membina peserta didik agar tidak meninggalkan akar budaya yang ia miliki sebelumnya, saat ia berhubungan dengan realitas sosial-budaya di era globalisasi.
Pertemuan antar budaya di era globalisasi ini bisa menjadi ‘ancaman’ serius bagi peserta didik. Untuk menyikapi realitas tersebut, peserta didik tersebut hendaknya diberikan pengetahuan yang beragam. Sehingga peserta didik tersebut memiliki kemampuan global, termasuk kebudayaan. Dengan beragamnya kebudayaan baik di dalam maupun di luar negeri, peserta didik perlu diberi pemahaman yang luas tentang banyak budaya, agar siswa tidak melupakan asal budayanya.
Menurut Fuad Hassan, saat ini diperlukan langkah antisipatif terhadap tantangan globalisasi, terutama dalam aspek kebudayaan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek) dapat memperpendek jarak dan memudahkan adanya persentuhan antar budaya.
Sehingga dengan pendidikan multikultural itulah, diharapkan mampu membangun Indonesia yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Karena keanekaragaman budaya dan ras yang ada di Indonesia itu merupakan sebuah kekayaan yang harus kita jaga dan lestarikan.


3.         Sebagai landasan pengembangan kurikulum nasional
Pendidikan multikultural sebagai landasan pengembangan kurikulum menjadi sangat penting apabila dalam memberikan sejumlah materi dan isi pelajaran yang harus dikuasai oleh peserta didik dengan ukuran dan tingkatan tertentu.
Pengembangan kurikulum yang berdasarkan pendidikan multikultural dapat dilakukan berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut.
a.       Mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku secara serentak seperti sekarang menjadi filosofi pendidikan yang sesuai dengan tujuan, misi, dan fungsi setiap jenjang pendidikan dan unit pendidikan.
b.      Harus merubah teori tentang konten (curriculum content) yang mengartikannya sebagai aspek substantif yang berisi fakta, teori, generalisasi, menuju pengertian yang mencakup nilai moral, prosedur, proses, dan keterampilan (skills) yang harus dimiliki generasi muda.
c.       Teori belajar yang digunakan harus memperhatikan unsur keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
d.      Proses belajar yang dikembangkan harus berdasarkan cara belajar berkelompok dan bersaing secara kelompok dalam situasi yang positif. Dengan cara tersebut, perbedaan antarindividu dapat dikembangkan sebagai suatu kekuatan kelompok  dan siswa terbiasa untuk hidup dengan keberanekaragaman budaya.
e.       Evaluasi yang digunakan harus meliputi keseluruhan aspek kemampuan dan kepribadian peserta didik sesuai dengan tujuan dan konten yang dikembangkan.

4.         Menuju masyarakat Indonesia yang Multikultural
Inti dari cita-cita reformasi Indonesia adalah mewujudkan masyarakat sipil yang demokratis, dan ditegakkan hukum untuk supremasi keadilan, pemerintah yang bersih dari KKN, terwujudnya keteraturan sosial serta rasa aman dalam masyarakat yang menjamin kelancaran produktivitas warga masyarakat, dan kehidupan ekonomi yang mensejahterakan rakyat Indonesia.
Corak masyarakat Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika bukan hanya merupakan keanekaragaman suku bangsa saja melainkan juga menyangkut tentang keanekaragaman budaya yang ada dalam masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Eksistensi keberanekaragaman tersebut dapat terlihat dari terwujudnya sikap saling menghargai, menghormati, dan toleransi antar kebudayaan satu sama lain. 
Berbagai konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain adalah demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat, suku bangsa, kesukubangsaan, kebudayaan suku bangsa, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM, hak budaya komuniti, dan kosnep-konsep lain yang relevan

B.     Sikap Toleransi dan empati
Sikap toleransi berarti sikap yang rela menerima dan menghargai perbedaan dengan prang atau kelompok lain. Empati adalah sikap yang secara ikhlas mau merasakan pikiran dan perasaan orang lain. Sikap tolerans dan empati ini sangat penting ditumbuhkembangkan dalam kehidupanmasyarakat Indonesia multicultural.  Dengan pengembangan sikap toleransi dan empati sosial, maka masalah-masalah yang beraitan dengan keberagaman sosial budya akan dapat dikendalikan, sehingga tidak mengarah pada pertentangan sosial yang dapat mengancam diisintegrasi nasional.
Semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sejak zaman Kerajaan Majapahit telah terpelihara cukup baik. Oleh karena itu, sikap toleransi tidak boleh pudar hanya karena perbedaan suku bangsa, ras, bahasa, agama, adat istiadat atau golongan politik. Sebab bangsa yang berBhinneka Tunggal Ika, kita tidak layak bersikap sukuisme, realism, chauvisme, primadialisme, atau anarkisme dalam kehidupan masyarakat. Sebab sikap dan perilaku seperti itu bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya dan jati diri bangsa Indonesia yang bersifat kekluargaan, ramah tamah, tolong menolong dan sebagainya. Oleh karena itu, kita harus menempatkan diri sebagai warga masyarakat yang merupakan bagian utuh dari bangsa Indonesia. Untuk itu, perlu dikembangkan sikap dan perilaku yang dilandasi oleh sikap demokratis, toleransi, empati, solidaritas, tolong menolong, dan kekeluargaan. Dengan demikian, kita akan dapat memlihara dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang dilandasi oleh nilai-nilai budaya nasional.
Sebagai makhluk Individu, manusia memiliki hak dan kewajiban asasi untuk mengembangkan kehidupannya secara mandiri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Namun, manusia tidak dapat hidup secara sendiri-sendiri, melainkan memerlukan bantuan manusia lainnya. Keberadaan manusia hanya bermakna bila mampu hidup secara kolektif dalam persekutuan dengan individu-individu lain dimasyarakat.
Adapun cara untuk menerima dan menghargai orang lain atau suku bangsa lain yang berbeda latar belakang budaya dapat dilakukan sebagai berikut:
a.       Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai dari bangsa Indonesia.
b.      Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
c.       Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai manusia yang memiliki kelebihan dan keterbatasan dalam hal-hal tertentu.
d.      Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai manusia yang memiliki persamaan kedudikan, harkat, martabat, dan derajat, serta hak dan kewajiban asasi.
e.       Kita perlu menerima dan menghargai oranglain/suku bangsa lain sebagai pemilihan dan penghuni tanah air Indonesia ciptaan Tuhan Yang Maha Rsa
f.       Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai manusia yang memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda dalam ras, suku bangsa, bahasa, adat-istiadat, profesi, golongan politik dan sebagainya.

C.    Menghadapi keanekaragaman kelompok sosial dalam masyarakat multikultural

Jangan menyalahkan perbedaan karena perbedaan sudah sewajarnya terjadi. Salahkanlah mengapa kita tidak bisa menyikapi perbedaan tersebut dengan lapang. Memang, tak mudah menerima perbedaan. Apalagi, menyikapinya. Terlebih, praktik memang terasa jauh lebih mudah daripada teori.Namun, hal tersebut bukan berarti kita berdiam diri saja dalam menyikapi perbedaan. Sesungguhnya, perbedaan bukanlah hambatan atau halangan dalam menjalin persaudaraan.
Sudah sepantasnya kita yang hidup di wilayah Indonesia yang merupakan wilayah yang banyak menyimpan keanekaragaman budaya, sosial, dan sebagaianya menjadikan suatu perbedaan untuk menjadikan perubahan yang lebih baik lagi. Hal in tentu akan sangat bermanfaat unt7uk kita karena akan menciptakan perdamaian dan menumbuhkan tali persaudaraan yang terjalin dengan masyrakat kita ini. Dengan adanay tali persaudaraan ini, akan tumbuh rasa saling percaya, menjaga dan saling menghrmati di anatara kelompok yang mempunyai perbedaan yang sebenarnya patut kita pelajari baik dan buruknya. Perbedaan bukan untuk menjadi halangan untuk kita menjadi lebih baik. Sebaliknya perbedaan haruslah kita jadikan sebagai dorongan untuk kita supaya merubah kebiasaan buruk menjadi lebih baik.
·         Kita harus sadar bahwa setiap manusia diciptakan berbeda, berbeda suku, budaya, dan tentunya karakter. Bila kita sadar, kejengkelan yang ada di dalam hati karena perilaku buruk orang lain, seminimal mungkin tidak akan membuat kita sakit hati. Kita akan dapat memahami perbedaan dari orang lain dengan menyikapi perbedaan itu dengan baik. Dengan kesadaran kita akan perbedaan yang dimiliki oleh seiap orang, maka hal tersebut akan menambah sikap pengertian dan saling menghormati dari dalam diri kita. Tentunya dengan hal tersebut, tidak hanya baik untuk orang di sekitar kita, melainkan untuk diri kita sendiri yang mempunyai sifat tersebut.
·         Masyarakat adalah buku, tempat belajar dan mengajar. Dalam hidup ini tentunya kita tidak mungkin untuk hidup sendiri dengan segala keegoisan diri kita, oleh karena itu, haruslah kita dapoat bersosialisasi dengan orang banyak walaupun dengan segala perbedaan yang ada dengan sangat baik dan apa adanya kita.
·         Mungkin, kita akan tersinggung dengan perkataan tetangga yang menyakitkan atau perilaku tetangga yang seolah tak peduli. Namun, percayalah semua itu bergantung bagaimana kita mengolahnya. Hadapilah dengan senyuman sekalipun hal tersebut sangat susah. Bagaimana mungkin kita bisa tetap bersikap ramah, sementara hati kesal karena perlakuan yang tidak menyenangkan. Namun hal tersebutlah yang terbaik untuk kita agara kehidupa kita tidak dipenuhi dengan konflik yang sebenarnya kecil. KOnflik yang kecil ini tentunya menuntun kita menjaid manusia yang baik dan berkualitas. Dan di dunia inilah manusia diharuskan untuk menjadi seseorang yang berkualitas bagi manusia lainnya.
·         Tak kenal, maka tak sayang. Mungkin saja tetangga berbuat seperti itu karena belum mengenal kita 100 persen. Cobalah untuk terus berpikir positif meski hal tersebut tentunya sangat susah bila hati kita sudah telanjur sakit. Semua itu memang perlu pembiasaan. Kembali lagi ke pembahasan bahwa kita sebagai manusia itu tidak mungkin untuk hidup sendiri, maka sudah sewajarnya kita untuk membangun tali persaudaraan dengan sesama agara terjalinlah sebuah keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.




BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Pendidikan di Indonesia yang masyarakatnya terdiri dari berbagai macam ras, suku budaya, bangsa, dan agama dirasa penting untuk menerapkan pendidikan multikultural. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa dengan masyarakat Indonesia yang beragam inilah seringkali menjadi penyebab munculnya berbagai macam konflik.
Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai macam suku yang masing-masing mempunyai struktur budaya (culture) yang berbeda-beda. Ciri-ciri masyarakat multikultural yaitu :Terjadi segmentasi, Memilki struktur, Konsensus rendah, Relatif potensi ada konflik, Integrasi dapat tumbuh dengan paksaan dan Adanya dominasi politik terhadap kelompok lain. Penyebab timbulnya masyarakat multikultural sbb: Faktor geografis, Pengaruh budaya asing, Kondisi iklim yang berbeda, Keanekaragaman Suku Bangsa, Keanekaragaman Agamadan Keanekaragaman Ras. Konflik yang muncul karena adanya keanekaragamaan, seperti konflik antar etnis. Penyelesaiannya dengan menggunakan kearifan lokal dan kearifan nasional.
B.     SARAN
Dengan dibuatnya makalah ini, semoga bisa bermamfaat. Pembaca, dengan beragamnya Bangsa Indonesia, beragamnya ras, kebudayaan, etnis, agama, dan lain sebagainya. Namun, kita sebagai pelajar yang baik sebagai warga Negara yang baik, marilah kita tanam jiwa persatuan kita dengan mempelajari ilmu – ilmu baru, sehingga kita menjadi tahu dan menjadi sosok yang memiliki jiwa persatuan dan kesatuan.





DAFTAR PUSTAKA
Munib, Achmad. 2009. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: Unnes Press.
http://www.anneahira.com/keanekaragaman-kelompok-sosial-dalam-masyarakat-multikultural.htm
http://tatanghusen.blogspot.co.id/2013/02/toleransi-dan-empati-sosial-terhadap.html

Comments