MAKALAH SEJARAH
TEORI EVALUASI DARWIN DAN ASAL-USUL MANUSIA MODERN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan HinayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Harapan kami semoga Makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi Makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. .
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu saran dan kritik sangat kami harapkan.
Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A. Latar Belakang............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah....................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan........................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................... 2
A. Teori Darwin................................................................................................ 2
B. Asal-usul manusia modern........................................................................ 5
BAB III PENUTUP.................................................................................................. 8
A. Kesimpulan.................................................................................................. 8
B. Saran ............................................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penterjemahan genetikadan bukti fossilmenunjuk bahwa perkembangan Homo sapiens purba menjadi manusia hanya terjadi diAfrika, antara 200 000 dan 150 000 lalu,[3]bahwa anggota dari satu cabang dari Homo sapiens meninggalkan Afrika antara 125 000 dan 60 000 tahun lalu, dan bahwa dalam perjalanan waktu Homo sapiens tersebut menggantikan populasi manusia yang lebih dini seperti manusia Neanderthaldan Homo erectus.[4]The date of the earliest successful "out of Africa" migration (earliest migrants with living descendents) has generally been placed at 60,000 years ago as suggested by genetics, although attempts at migration out of the continent may have taken place as early as 125,000 years ago according to Arabian archaeology finds of tools in the region.
Asal usul tunggal manusia modern di Afrika Timur adalah pandangan yang dipegang mayoritas masyarakat ilmiah. Ada teori yang berbeda mengenai apakah terjadi satu hijrah atau lebih. Dalam model penyebaran jamak termasuk teori Penyebaran Selatan,[yang akhir-akhir ini mendapat dukungan dari bukti-bukti genetika, linguistikdan arkeologis. Sejumlah peneliti yang kian besar juga menduga bahwa "Afrika Utara yang lama diabaikan" adalah tempat asal awal manusia modern yang pertama berhijrah dari Afrika.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tentang teori Darwin?
2. Bagaiana asal-usul manusia modern?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui teori Darwin
2. Guna menambah pengetahuan tentang asal-usul manusia modern
1.
BAB II
PEMBAHASAN
A. TEORI DARWIN
1. Perjalanan Darwin
Charles Darwin, waktu itu berumur 22 tahun, ikut dalam perjalanan kapal HMS Beagle. Kapal tersebut ditugaskan untuk berlayar ke berbagai tempat dan memetakan pesisir Amerika Selatan. Selama perjalanan ke berbagai tempat, Darwin menemukan berbagai macam fosil hewan-hewan yang punah. Beberapa di antaranya mirip dengan hewan yang masih ada. Berdasarkan pengalamannya, Darwin menemukan banyak variasi dalam bentuk, habitat, dan distribusi geografis hewan dan tumbuhan.
Perjalanan Darwin akhirnya sampai di kepulauan Galapagos. Di tempat ini, variasi antarhewan dan tumbuhan terlihat lebih jelas. Darwin menemukan kura-kura raksasa dan iguana galapagos yang mirip kadal, tetapi berenang di air dan memakan rumput laut. Darwin memperlihatkan bahwa terdapat variasi pada hewan tertentu berdasarkan bentuk tubuh dan fungsinya dari pulau ke pulau. Hal tersebut terlihat jelas pada populasi burung Finch.
Variasi bentuk paruh dan jenis makanan pada burung Finch yang diamati Darwin. |
Berdasarkan pengamatannya, Darwin mencatat dua konsep penting.
- Perbedaan antara populasi yang berkerabat, memperlihatkan adaptasi terhadap lingkungan yang berbeda. Dalam biologi, adaptasi berarti semua ciri makhluk hidup secara genetis yang membuat individu atau spesies tersebut dapat bertahan hidup pada lingkungannya.
- Variasi dalam bentuk tubuh dan tingkah laku, terakumulasi dalam kelompok terpisah. Beberapa variasi ini, melalui seleksi alami, menjadi sifat yang teradaptasi.
2. Teori Darwin
Pada tahun 1859 setelah kembali ke Inggris, Darwin mempublikasikan bukunya yang berjudul The Origin of Species by Means of Natural Selection. Darwin bukanlah satu-satunya yang mengungkapkan seleksi alam. Seorang naturalis Inggris lainnya, Alfred Russell Wallace, yang mempelajari tumbuhan dan hewan di Brazil dan di Asia Tenggara (Malaysia dan Indonesia) juga memiliki pendapat yang sama.
Seperti halnya Lamarck, Darwin menyatakan bahwa makhluk hidup secara perlahan berevolusi sebagai adaptasi terhadap lingkungannya. Namun, Darwin mengajukan mekanisme yang berbeda sebagai penyebab perubahan dalam spesies.
Berbeda dengan Lamarck, Darwin menyadari adanya variasi dalam populasi spesies. Variasi inilah yang dapat diwariskan, bukannya sifat yang didapat seperti yang diajukan Lamarck. Darwin mengamati bagaimana para petani dan peternak melakukan seleksi terhadap hasil penyilangan untuk mendapatkan tanaman atau hewan dengan sifat unggul. Kemudian, tanaman atau hewan unggul inilah yang akhirnya dikembangkan sehingga didapatkan populasi hewan atau tanaman dengan sifat unggul. Darwin kemudian mengajukan suatu hipotesis bahwa cara seleksi yang sama terjadi di alam.
Darwin menamai proses ini dengan seleksi alam (natural selection). Seleksi alam merupakan hasil dari interaksi antara populasi dan lingkungannya. Darwin menyadari bahwa di alam banyak makhluk hidup yang menghasilkan keturunan lebih banyak daripada yang dapat bertahan hidup. Contohnya, katak menghasilkan ratusan telur. Akan tetapi, hanya sebagian keturunannya saja yang dapat menghasilkan keturunan pada generasi selanjutnya. Banyak kejadian alam seperti predasi dan bencana alam yang menyebabkan sebagian keturunan tidak dapat bertahan untuk menghasilkan keturunan baru. Darwin menjelaskan proses ini sebagai kompetisi.
Seleksi alam menurut Darwin. Anggota populasi dengan sifat yang sesuai dengan lingkungannya akan bereproduksi secara sukses sehingga akhirnya mendominasi. |
Darwin kemudian mengungkapkan bahwa hanya individu yang sesuai dengan lingkungannya saja yang akan bertahan dan menghasilkan keturunan. Proses ini disebut “survival of the fittest” (individu yang sesuai bertahan hidup). Teori seleksi alam yang dikemukakan Darwin dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Spesies memiliki kemampuan untuk menghasilkan keturunan yang banyak.
- Sumber daya alam di bumi terbatas. Oleh karena itu, terjadi kompetisi untuk bertahan hidup di antara keturunan pada setiap generasi.
- Terdapat variasi dalam populasi makhluk hidup. Tidak terdapat dua individu yang sama persis. Variasi ini umumnya dapat diwariskan.
- Proses ini berlangsung dari generasi ke generasi. Populasi lambat laun menjadi teradaptasi lebih baik terhadap lingkungannya.
Perlu diperhatikan bahwa variasi dalam populasi terjadi secara acak. Variasi tidak timbul akibat respons terhadap lingkungannya. Seleksi alam “menyeleksi” sifat yang telah ada dalam kolam gen (gen pool). olam gen atau lungkang gen ini merupakan jumlah total seluruh gen dalam populasi pada suatu waktu tertentu.
Pada saat itu, Darwin tidak mengetahui prinsip genetika modern. Kini, para ilmuwan mengetahui bahwa mutasi dapat terjadi pada makhluk hidup. Mutasi sebagai penyebab variasi dapat berguna bagi lingkungan. Jika mutasi yang terjadi berguna, hal tersebut dapat meningkatkan kemungkinan bertahan hidup makhluk tersebut.
3. Seleksi Alam
Darwin menjelaskan bahwa evolusi terjadi melalui seleksi alam. Seleksi alam terjadi pada populasi suatu spesies. Hal ini karena di dalam populasi terdapat bahan mentah evolusi, yaitu variasi genotipe dan fenotipe. Terdapat tiga kemungkinan seleksi alam yang berpengaruh terhadap populasi, yaitu seleksi stabilisasi, seleksi terarah, dan seleksi memecah belah. Perhatikan Gambar berikut.
Pada gambar tersebut, seleksi alam dicontohkan terjadi pada populasi tikus dengan variasi warna bulu terang hingga gelap. Grafik paling atas memperlihatkan frekuensi populasi normal tikus.
1.) Seleksi Stabilisasi
Seleksi ini menguntungkan varian yang paling umum. Seleksi ini menghilangkan tikus dengan warna terang dan gelap. Seleksi ini cenderung mengurangi variasi populasi dan mempersulit terjadinya evolusi dalam populasi. Seleksi ini contohnya terjadi pada berat badan bayi manusia yang baru dilahirkan. Pada bayi, jika berat badan kurang atau lebih dari 3–4 kg, memiliki tingkat mortalitas tinggi.
2.) Seleksi Terarah
Pada seleksi ini terjadi tekanan pada salah satu variasi yang tidak umum sehingga menyebabkan pergeseran jumlah populasi. Seleksi ini terjadi pada varian tikus warna terang sehingga rentang populasi bergeser ke varian bulu gelap. Hal ini contohnya terjadi pada serangga yang terkena insektisida. Hanya serangga yang kebal terhadap insektisida saja yang dapat menghasilkan keturunan.
3.) Seleksi Memecah Belah
Seleksi ini terjadi ketika kondisi lingkungan bervariasi sehingga populasi terpecah berdasarkan kesukaan varian-varian dalam populasi. hal tersebut dapat terjadi ketika terdapat dua daerah dengan warna tanah berbeda sehingga menguntungkan dua varian tikus (terang dan gelap) dari predasi pemangsa. Meskipun jarang terjadi, seleksi memecah belah sangat penting karena dapat memicu terbentuknya variasi yang sangat berbeda dalam satu spesies hingga terbentuk spesies baru (spesiasi).
B. ASAL USUL MANUSIA MODERN
Ada dua perspektif yang berkembang tentang asal usul munculnya manusia modern. Pertama, Out of Africa (OA) dan Multiregional Evolution Model (MRE). OA berbasis pada data paleontologi dan bukti-bukti genetika. Data paleontologi terutama dikembangkan oleh Stringer dan Bräuer dengan teori Recent African Origin; dan African Hybridization and Replacement . Di sisi lain, MRE yang dipelopori oleh Wolpoff, Thorne dan Wu, berpendapat berlawanan dengan OA. MRE menyatakan bahwa manusia modern tidak hanya berasal dari Afrika, melainkan juga dari Eropa dan Asia. Artinya bahwa manusia modern m uncul di berbagai wilayah sebagai hasil evolusi dari populasi yang sudah ada sebelumnya (archaic population). Pada paper ini penulis akan fokus menguraikan teori para ilmuan yang menyatakan bahwa manusia pada awalnya berasal dari Benua Afrika yang kemudian menyebar ke seluruh dunia yang populer dengan istilah Out of Africa (OA).
Berdasarkan analisis morfologi pada fosil dari Afrika dan Eropa, Bräuer (1982) mengajukan teori Afro-European-sapiens hypothesis atau yang disebut juga African hybridization and replacement model. Dalam teorinya Bräuer menyatakan bahwa sedikitnya ada proses evolusi secara gradual dari awal sampai pada akhir archaic Homo sapiens yang pada akhirnya mengarah pada kemunculan awal dari anatomically modern Homo sapiens di Afrika pada akhir masa Pleistosin tengah dan Pleistosin atas. Studi tentang kemunculan populasi modern Eropa, Bräuer mengatakan bahwa anatomically modern Homo sapiens dari Afrika bermigrasi ke Eropa melalui Timur Tengah. Populasi pendatang dari Afrika ini kemudian semakin berkembang dan bertambah banyak serta menggantikan/menghapuskan populasi Neandertal yang telah hidup terlebih dulu di Eropa. Lebih jauh Bräuer menduga bahwa periode penggantian ini berlangsung ribuan tahun. Dalam masa ini diduga telah terjadi hibridisasi dalam derajat yang berbeda -beda (Bräuer, 1984). Dengan kata lain Bräuer menerima adanya hibridisasi antara populasi pend atang dan populasi asli. Pendapat Bräuer ini didukung oleh data genetik dari Krings et al. (1997). Hasil sekuensi mtDNA dari Neandertal yang ditemukan pada tahun 1856 di Jerman, menunjukkan bahwa hasil sekuensi Neandertal berada di luar variasi mtDNA manus ia modern. Dengan kata lain, Neandertal punah tanpa memberikan kontribusi mtDNA terhadap gene pool manusia modern (di Eropa). Artinya, kontinuitas genetik tidak terjadi di Eropa seperti yang dinyatakan oleh MRE.
Bräuer (1992) juga membandingkan karakteris tik morfologi antara archaic Homo sapiens dan anatomically modern Homo sapiens di Cina. Dia menemukan adanya beda morfologi antara Dali dan Maba dengan anatomically modern Homo sapiens . Bräuer tidak menemukan adanya fosil yang bisa menjembatani perbedaan (gap) morfologi ini. Temuan fosil di Asia Tenggara juga menunjukkan gap morfologi antara Ngandong dan spesimen dari Niah. Hasil pengamatan Santa Luca (1980, dalam Bräuer, 1992) pada spesimen Tabon dan Wajak juga menunjukkan perbedaan morfologi dengan Ngandong. Artinya bahwa di Australasia pun tidak ditemukan bukti kontinuitas genetik. Sebagai tanggapan terhadap studi tentang mtDNA yang dilakukan oleh Cann et al. (1987), Stringer dan Andrew (1988) mengajukan hipotesis Recent African Origin yang intinya adalah sebuah test model mengenai Total replacement. Recent African Origin berbasis pada awal munculnya manusia modern di Afrika dan pada bukti genetik populasi hidup. Dalam test model ini Stringer dan Andrew menyatakan bahwa Afrika diduga adalah tempat yang tep at sebagai sumber berkembangnya manusia modern sekitar 100.000 tahun yang lalu yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah di luar Afrika. Berkenaan dengan transisi dari Neandertal dan manusia modern, Stringer (1992) berpendapat bahwa hibridisasi dan gene flow bisa jadi muncul, terutama di Eropa tengah. Sekalipun demikian Stringer menekankan bahwa adanya gene flow dan hibridisasi ini bukan berarti memberi pengaruh yang berarti terhadap gene pool manusia modern saat itu.
Berkaitan dengan perbandingan variasi morfologi di Asia, Stringer dan Andrew menyatakan bahwa fosil di Cina dari masa Pleistosin tengah (Yinkou dan Dali) menunjukkan perubahan menyerupai hominid dari Eropa dan Afrika, sehingga menunjukkan kontras dengan morfologi dari nenek moyangnya. Dengan demikian Stringer dan Andrew mempunyai pendapat sama dengan Bräuer bahwa tidak ada fosil yang diketahui yang bisa menjembatani gap morfologi pada periode ini (50.000 – 100.000 tahun lalu) yang mengindikasikan munculnya manusia modern dari Asia. Lebih jauh Stringer dan Andrew juga menekankan bahwa tidak ditemukan bukti-bukti fosil hominid di kawasan Australasia dari masa Pleistosin akhir. Willandra Lakes yang selama ini dianggap sebagai bentuk transisi antara Homo erectus dari Indonesia dan populasi Australia modern juga bersifat patologis (Brown, 1999).
Model OA banyak didukung oleh bukti genetik. Studi mengenai mtDNA yang dilakukan oleh Cann et al. (1987) berkesimpulan bahwa Afrika adalah sumber gene pool mtDNA manusia modern. Tidak ditemukan bukti percampuran mtDNA antara populasi pra m odern dengan manusia modern. Dengan kata lain bahwa Homo sapiens dari Afrika yang menggantikan atau menghapuskan populasi pra modern ini. Lebih lanjut Stoneking dan Cann (1989) menunjukkan berdasarkan penelitiannya bahwa di Afrika lah ada bentuk transforma si menuju manusia modern sekaligus sebagai pusat percabangan pertama menuju manusia modern. Sebagian populasi ini menyebar ke seluruh dunia sedangkan yang lain tinggal tetap dan menyebar ke seluruh Afrika. Tidak hanya data mtDNA yang menunjukkan bukti -bukti tentang OA melainkan juga Ychromosome dan DNA inti yang memperkuat hipotesis bahwa manusia modern mempunyai kesamaan genetik dengan populasi Afrika di masa lalu (Cann, 1992; 1994). Studi ini diperkuat oleh Horai et al. (1995) yang meneliti daerah D-Loop; Nei (1995) yang mengkonstruksi filogenetik manusia modern dari lima data frekuensi gen yang berbeda (microsatelite DNA set I, microsatelite DNA set II, RFLP data, protein polymorphism dan Alu insertion polymorphism data) dan Krings et al. (1999) yang meneliti HVR II pada Neandertal kaitannya dengan kontribusi gene pool manusia modern. Hasil dari berbagai studi ini menunjukkan recent common ancestor manusia modern berasal dari populasi di Afrika.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Teori penciptaan manusia sangat berperan penting dalam menguatkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Karena sebelumnya terdapat pandangan materialisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu dipandang dari segi materi. Bahkan Teori Evolusi yang dikemukakan oleh Darwin menyatakan bahwa manusia itu berasal dari keturunana nenek moyang mamalia. Dan ada juga anggapan yang menyatakan bahwa manusia dan kera itu merupakan hasil modifikasi dari pendahulu primatanya. Namun dalam Al Qur’an disebutkan bahwa manusia itu sesungguhnya berasal dari saripati cairan hina, yaitu air mani. Kemudian dari saripati hina itu segera berkembang dengan melakukan pembelahan sel, dan akhirnya menjadi “segumpal daging”. Dan pada akhir proses, setelah bayi tumbuh sempurna di dalam rahim ibu, lalu lahir ke dunia.Sehingga penciptaan manusia menurut teori Evolusi itu sangat bertentangan dengan sila pertama Pancasila, yang tidak mengakui akan kebesaran penciptaan Tuhan. Rancangan yang tersembunyi tentang manusia merupakan bukti yang meyakinkan akan keberadaan Sang Pencipta (Tuhan) yang menguasai jagat raya, yang memiiki kekuatan dan kebijakan tidak terbatas, yaitu Sang Pencipta yang sama yang telah menciptakan alam semesta dari kehampaan. Dengan adanya penciptaan manusia ini menunjukkan bahwa Tuhan itu memang ada. Oleh karena itu sudah sepantasnya manusia itu meyakini,mempercayai dan mengimani Tuhan Yang Maha Esa.
Oleh karena itu untuk menyikapi adanya teori-teori yang muncul mengenai penciptaan manusia, kita sebagai bangsa Indonesia yang mempunyai Pancasila sebagai dasar filsafat Negara dengan adanya sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak terjerumus pada paham atheis tang tidak mengakui adanya Tuhan. Dan untuk itu, kita harus mengetahui dan sadar akan hal pemahaman ilmu penngetahuan yang penting. Selain itu kita juga perlu memahami tentang nilai-nilai Ketuhanan Yanng Maha Esa, sehingga kita yakin dan percaya bahwa alam semesta termasuk manusia itu tercipta tidak karena kebetulan semata, tetapi diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
B. SARAN
Manusia diciptakan oleh Allah, akan tetapi jika ada teori-teori yang menjelaskan tentang munculnya manusia hanyalah suatu yang harus di pertimbangkan. Karena bertentangan dalam agama islam.
DAFTAR PUSTAKA
Bräuer, G., The Afro-Europeans Sapiens-Hypothesis and Hominid Evolution in Asian During the Late Middle and Upper Pleistocene, dalam (P. Andrews & J. Franzen, eds.) Cour. Forsch. Inst. Senckenberg. Vol 69: The early Evolution of Man with Spezial Emphasis on Southeast Asia and Africa. Frankfurt am Main, 1984.
Koerbardiati, Toetik. Teori-Teori Munculnya Manusia Modern. (Jurnal)
Stringer, C., Replacement, Continuity and the Origin of Homo Sapiens, dalam (G. Bräuer & Smith, F.H., Eds.) Continuity or Replacement: Controversies in Homo Sapiens Evolution (Rotterdam: A.A. Balkema, 1992).
Comments
Post a Comment